🎓 Psikologi Pendidikan • One-Way ANOVA • Kruskal-Wallis

Analisis Perbedaan Motivasi Belajar Siswa antara SMP A, SMP B, dan SMP C

Contoh Kasus 1 di STATCAL Learning Center: membandingkan motivasi belajar pada tiga kelompok independen melalui statistik deskriptif, normalitas, homogenitas, One-Way ANOVA, Welch ANOVA, post hoc, Kruskal-Wallis, Pairwise Wilcoxon, dan effect size.

Ringkasan Data
38Total siswa
3Kelompok sekolah
7,9188Mean tertinggi: SMP C
p < 0,001Welch ANOVA
Temuan utama: SMP C memiliki rata-rata motivasi belajar tertinggi dan berbeda signifikan dari SMP A serta SMP B.
1

Ringkasan Alur Penelitian

Visual ringkas dari konteks kasus, data, pengujian asumsi, analisis utama, post hoc, hingga kesimpulan.

Ringkasan penelitian motivasi belajar ANOVA dan Kruskal-Wallis
File “ringkasan penelitian.png” belum ditemukan.
Letakkan gambar tersebut pada folder yang sama dengan index.html.
2

Latar Belakang & Pertanyaan Penelitian

Kasus terinspirasi dari artikel PENDIPA Journal of Science Education.

📖
Inspirasi Artikel

Student Learning Motivation in Science Learning: A Comparative Study in Three Schools

PENDIPA Journal of Science Education

Contoh kasus ini mengadaptasi konteks perbandingan motivasi belajar siswa pada tiga sekolah. Peneliti merancang kuesioner untuk menilai motivasi belajar, kemudian membandingkan skor siswa dari SMP A, SMP B, dan SMP C.

Permasalahan Penelitian
Apakah terdapat perbedaan motivasi belajar siswa yang signifikan antara siswa SMP A, SMP B, dan SMP C?

Variabel dependen: Motivasi Belajar Siswa

Variabel independen / grouping: Sekolah

Kelompok: SMP A, SMP B, dan SMP C

🧾 Kuesioner👥 3 kelompok independen📊 ANOVA📈 Kruskal-Wallis
3

Data Penelitian

38 siswa: 9 siswa SMP A, 13 siswa SMP B, dan 16 siswa SMP C.

Tabel 1.1 Data Skor Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan Sekolah
Ketik untuk memfilter 38 baris data
RespondenMotivasi Belajar SiswaSekolah
16.75SMP A
25.95SMP A
36.54SMP A
45.48SMP A
55.86SMP A
66.15SMP A
75.85SMP A
85.46SMP A
95.38SMP A
106.85SMP B
116.05SMP B
126.64SMP B
135.58SMP B
145.96SMP B
156.25SMP B
165.95SMP B
175.56SMP B
185.48SMP B
196.95SMP B
206.15SMP B
216.74SMP B
225.68SMP B
237.75SMP C
248.95SMP C
257.54SMP C
266.48SMP C
276.86SMP C
288.15SMP C
298.85SMP C
308.46SMP C
318.38SMP C
329.85SMP C
337.05SMP C
347.64SMP C
358.58SMP C
368.96SMP C
375.25SMP C
387.95SMP C
Tabel 1.1 memuat 38 siswa, terdiri atas 9 siswa SMP A, 13 siswa SMP B, dan 16 siswa SMP C. Motivasi Belajar Siswa merupakan variabel dependen, sedangkan Sekolah merupakan variabel pengelompokan dengan tiga kategori.
4

Statistik Deskriptif

Gambaran awal jumlah siswa, rata-rata, variasi, serta rentang skor motivasi belajar.

Sebelum pengujian hipotesis, analisis statistik deskriptif digunakan untuk melihat pola awal perbedaan motivasi belajar pada masing-masing sekolah.

Dependent VariableGroupNMeanStd. DeviationMinimumMaximum
Motivasi Belajar SiswaSMP A95.93560.47835.386.75
Motivasi Belajar SiswaSMP B136.14150.51285.486.95
Motivasi Belajar SiswaSMP C167.91881.12725.259.85
5,9356Mean SMP A
6,1415Mean SMP B
7,9188Mean SMP C
38Total siswa
SMP A
5,9356
SMP B
6,1415
SMP C
7,9188
Secara deskriptif, SMP C memiliki rata-rata motivasi belajar tertinggi. Selisih SMP C–SMP A sekitar 1,9832 poin dan SMP C–SMP B sekitar 1,7772 poin.
5

Uji Normalitas

Kolmogorov–Smirnov (Exact request) dilakukan secara terpisah pada setiap sekolah.

Dependent VariableGroupNTestStatisticp-value
Motivasi Belajar SiswaSMP A9Kolmogorov-Smirnov (Exact request)0.16290.9410
Motivasi Belajar SiswaSMP B13Kolmogorov-Smirnov (Exact request)0.14220.9223
Motivasi Belajar SiswaSMP C16Kolmogorov-Smirnov (Exact request)0.11840.9585
✓ Semua p > 0,05 Tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa skor motivasi belajar pada masing-masing sekolah menyimpang dari distribusi normal.
6

Uji Homogenitas Varians

Levene's Test digunakan untuk mengevaluasi kesamaan varians pada tiga kelompok.

Dependent VariableTestStatisticdf1df2p-value
Motivasi Belajar SiswaLevene's Test (mean)3.93292350.0288
! p = 0,0288 < 0,05 Varians ketiga kelompok tidak dapat dianggap homogen. Oleh karena itu, Welch One-Way ANOVA menjadi hasil parametrik utama.
7

One-Way ANOVA & Welch One-Way ANOVA

ANOVA klasik ditampilkan sebagai pembanding; Welch ANOVA menjadi dasar utama karena varians tidak homogen.

One-Way ANOVA Klasik

SourceSum of SquaresdfMean SquareFp-value
Between Groups32.3234216.161723.52410.0000
Within Groups24.0460350.6870
Total56.369437

Welch One-Way ANOVA

TestStatisticdf1df2p-value
Welch One-Way ANOVA19.1419222.25820.0000
19,1419Welch Statistic
2df1
22,2582df2
p < 0,001Signifikan
★ Tolak H₀ Terdapat perbedaan rata-rata motivasi belajar yang signifikan antara SMP A, SMP B, dan SMP C.
8

Uji Lanjut: Tukey HSD

Multiple comparison digunakan untuk mengetahui pasangan sekolah yang berbeda.

ComparisonMean DifferenceCI LowerCI Upperp adjustedKesimpulan
SMP B − SMP A0.2060-0.67361.08560.8353Tidak signifikan
SMP C − SMP A1.98321.13802.8284< 0.001Signifikan
SMP C − SMP B1.77721.01982.5346< 0.001Signifikan
SMP A vs SMP BTidak signifikan
p = 0,8353
SMP A vs SMP CSignifikan
p < 0,001
SMP B vs SMP CSignifikan
p < 0,001
Catatan metodologis: karena Levene's Test menunjukkan varians tidak homogen, Games–Howell lebih tepat dipertimbangkan sebagai post hoc utama yang mendampingi Welch ANOVA. Tukey HSD di atas tetap ditampilkan dan diinterpretasikan sesuai output contoh.
9

Uji Kruskal–Wallis

Pendekatan nonparametrik untuk membandingkan tiga kelompok independen.

TestStatisticdfp-value
Kruskal-Wallis19.437120.0001
Interpretasi
H = 19,4371   |   df = 2   |   p = 0,0001

Karena p < 0,05, hipotesis nol ditolak. Kruskal–Wallis juga menunjukkan adanya perbedaan motivasi belajar yang signifikan antara ketiga sekolah.

10

Post Hoc Kruskal–Wallis: Pairwise Wilcoxon

Pairwise Wilcoxon Rank-Sum dengan koreksi Holm digunakan untuk menentukan pasangan kelompok yang berbeda.

Group 1Group 2Wp rawp adjustedAdjustmentKesimpulan
SMP ASMP B40.50.24220.2422HolmTidak signifikan
SMP ASMP C110.00060.0012HolmSignifikan
SMP BSMP C180.00020.0005HolmSignifikan
Konsisten dengan pendekatan parametrik: SMP A dan SMP B tidak berbeda signifikan, sedangkan SMP C berbeda signifikan dari SMP A maupun SMP B.
11

Effect Size

Menilai seberapa besar perbedaan antar kelompok, bukan hanya apakah perbedaannya signifikan.

Eta Squared0,5734Large
Omega Squared0,5424Large
Epsilon Squared (Kruskal–Wallis)0,4982Large
Ketiga ukuran effect size tergolong Large. Dengan demikian, perbedaan antar sekolah pada data contoh ini tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga memiliki ukuran efek yang besar.

12. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis terhadap 38 siswa yang berasal dari SMP A, SMP B, dan SMP C, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar siswa yang signifikan antara ketiga sekolah. Secara deskriptif, SMP C memiliki rata-rata motivasi belajar tertinggi sebesar 7,9188, diikuti SMP B sebesar 6,1415 dan SMP A sebesar 5,9356. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa skor pada ketiga kelompok dapat dianggap memenuhi asumsi normalitas, sedangkan Levene's Test menunjukkan varians tidak homogen sehingga Welch One-Way ANOVA lebih tepat dijadikan hasil parametrik utama. Welch One-Way ANOVA menunjukkan p < 0,001. Analisis pasangan menunjukkan SMP A dan SMP B tidak berbeda signifikan, sedangkan SMP C berbeda signifikan dengan SMP A dan SMP B. Kesimpulan yang sama diperoleh melalui Kruskal–Wallis dan Pairwise Wilcoxon Rank-Sum dengan koreksi Holm. Eta Squared, Omega Squared, dan Epsilon Squared seluruhnya menunjukkan ukuran efek besar. Dengan demikian, perbedaan utama pada data contoh ini ditunjukkan oleh tingginya motivasi belajar siswa SMP C dibandingkan SMP A dan SMP B.

Praktik Mandiri dengan STATCAL

Coba analisis data kasus ini sendiri

Unduh bahan, buka STATCAL ONLINE, pilih Motivasi Belajar Siswa sebagai dependent variable dan Sekolah sebagai grouping variable.